ADVERTISEMENTS

Minggu, 11 Juli 2010

Diare pada Bayi

Menurut WHO, diare merupakan buang air besar dalam bentuk cairan lebih dari tiga kali dalam sehari, dan biasanya berlangsung selama dua hari atau lebih. Terkadang orang tua kerap bertanya-tanya apakah bayinya mengalami diare.

Pada bayi, konsistensi tinja lebih diperhatikan dari pada frekuensi beraknya, hal ini dikarenakan frekuensi berak pada bayi lebih sering dibandingkan orang dewasa, bisa sampai lima kali dalam sehari. Frekuensi berak yang sering pada anak belum tentu dikatakan diare bila konsistensi tinjanya seperti hari-hari pada umumnya. Seorang ibu dapat mengetahui kapan anaknya terkena diare, dan bergantung pada situasi anak.

Diare disebabkan oleh berbagai macam faktor antara lain : faktor infeksi, malabsorbsi (gangguan penyerapan zat gizi), makanan dan faktor psikologis. Salah satu penyebab diare karena faktor malabsorbsi adalah malabsorbsi karbohidrat, yaitu kepekaan terhadap Lactoglobulin dalam susu formula. Gejalanya berupa diare berat, tinja berbau sangat masam, sakit di daerah perut. Bayi dapat alergi terhadap satu jenis susu formula tertentu dan mengalami diare berkepanjangan. (Widjaja 2002 : 33).
Ada dua jenis diare menurut lama hari terjadinya yaitu  : diare akut dan diare kronik.
Diare akut adalah diare yang terjadi secara mendadak pada bayi dan anak yang sebelumnya sehat serta berlangsung antara 3-5 hari. Sedangkan diare kronik adalah diare yang berlanjut lebih dari 2 minggu, disertai kehilangan berat badan atau tidak bertambahnya berat badan.

Penyebab Diare
Menurut WHO Penyebab diare bermacam-macam, diantaranya infeksi : Bakteri, virus, susu formula, status gizi, dan faktor ekonomi.

Infeksi Virus
Virus yang paling banyak menimbulkan diare adalah Rotavirus. Menurut WHO, Rotavirus turut berkontribusi sebesar 15-25% diare pada anak usia 1- 24 bulan.

Infeksi Bakteri
Bakteri seperti Shigella, Vibrio cholera, Salmonella (non thypoid), Campylobacter jejuni maupun Escherichia coli bisa  merupakan penyebab diare pada bayi. Bayi kemungkinan mengalami diare akibat infeksi bakteri jika diare yang dialaminya sangat hebat, diikuti dengan kejang, terdapat darah di tinjanya, disertai demam.

Parasit
Infeksi akibat parasit juga dapat menyebabkan diare. Penyakit Giardiasis misalnya. Penyakit ini disebabkan parasit mikroskopik yang hidup dalam usus. Gejala Giardiasis diantaranya adalah banyak gas, tinja yang sangat banyak dan berbau busuk, perut kembung, serta diare.

Antibiotik
Jika  bayi mengalami diare selama pemakaian antibiotik, hal ini dapat berhubungan dengan pengobatan yang sedang dijalaninya. Antibiotik  membunuh bakteri baik dalam usus selama pengobatan. Konsultasikan pada dokter mengenai hal ini. Namun, jangan hentikan pengobatan pada bayi sampai dokter memberikan persetujuan.

Pemberian susu formula
Pada awal bayi menerima susu formula, bayi akan mengalami mencret. Hal ini merupakan keluhan yang banyak pada orang tua. Jika susu formula tersebut ternyata cocok, maka mencret  hanya akan terjadi antara 3 sampai dengan 4 hari. Setelah itu, kondisi si kecil akan kembali normal. Hal ini terjadi karena usus bayi sedang beradaptasi dengan susu formula tersebut.
Jika susu formula yang di berikan tidak cocok maka mencret akan terjadi terus menerus ( Indiarti MT 2007)

Status Gizi
Status gizi memberikan gambaran keadaan keseimbangan antara konsumsi dengan penyerapan zat gizi dan penggunaan zat-zat gizi tersebut. Kecukupan gizi akan mempengaruhi ketahanan fisik seseorang untuk dapat bertumbuh dan berkembang secara sehat dan tidak mudah terinfeksi oleh berbagai penyakit infeksi seperti diare. Anak balita dengan status gizi kurang mempunyai risiko yang lebih tiggi untuk menderita diare daripada anak balita dengan status gizi yang baik (Suharyono,2002 ).
Faktor Ekonomi
Faktor ekonomi adalah pendapatan keluarga dihitung dari pendapatan keluarga perkapita dalam waktu satu bulan. Sulitnya menghitung pendapatan riil seseorang, maka pengeluaran keluarga dapat dipakai sebagai salah satu indikator yang dapat menggambarkan keadaan kesejahteraan masyarakat. Faktor-faktor ekonomi mempunyai pengaruh langsung terhadap faktor-faktor penyebab diare. Kebanyakan pada anak yang mudah menderita diare berasal dari keluarga dengan status sosial ekonomi rendah, daya beli yang rendah, kondisi rumah yang buruk dan tidak adanya penyediaan air bersih yang memenuhi syarat kesehatan (Suharyono, 2002).

Gejala – Gejala Diare Pada Bayi
  1. Fesesnya cair.
  2. Frekuensi BAB meningkat dari biasannya 2 – 5 kali sehari menjadi tiga kali lipatanya atau lebih
  3. Kadang disertai muntah dan demam
  4. Bayi jarang buang air kecil yang menandakan bayi dehindrasi.

Diare akibat  Susu Formula.
Susu formula kadang memeri gejala diare pada bayi.
Jika ada anak yang sehabis makan dan minum zat yang mengandung karbohidrat seperti susu formula, bubur, nasi, roti dan lain-lain, kemudian mengalami diare berulang harus diwaspadai adanya kemungkinan mengalami intolerance  laktosa. Jika terjadi demikian, dapat ditangani dengan  pemberian makanan yang bebas laktosa atau rendah laktosa (Widjaja, 2002).
Banyak faktor yang berperan terhadap terjadinya diare pada pemberian susu formula seperti peralatan makanan yang digunakan, cara-cara pembersihan alat, serta cara pemberian susu formula kepada bayi (Widjaja, 2002).
Sebaiknya tidak terlalu sering mengganti atau merubah jenis susu formula bayi  karena dapat menyebabkan lambung bayi harus berulang-ulang beradaptasi dengan jenis susu baru, bahkan dapat saja bayi alergi terhadap satu jenis susu formula tertentu dan mengalami diare berkepanjangan

Daftar Bacaan
Nelson. Ilmu kesehatan anak . EGC, Jakarta 2002.
Arlene Eisenberg,Bayi Pada Tahun Pertama. Arcan, Jakarta,2002

Indiarti MT.Asi, Susu Formula Dan Makanan Bayi.Yogyakarta, 2008.
Steve P. Shelov, Perawatan Untuk Bayi Dan Balita. Arcan, Yogyakarta, 2002.

Artikel Terkait



0 komentar:

Posting Komentar

ADVERTISEMENTS