ADVERTISEMENTS

Kamis, 18 Maret 2010

KEHIDUPAN SEKSUAL PADA USIA LANJUT

Kemajuan pada pengelolaan kesehatan menyebabkan usia harapan hidup bertambah. Populasi manula meningkat didunia,sejalan dengan munculnya masalah manula seperti masalah kesehatan, fisik maupun psikis, termasuk kehidupan seksual mereka. Kehidupan seksual pada manula jarang dibahas, dkarenakan adanya “hambatan normatif” dan atau masalah masalah psikososial seperti : citra diri, kenyamanan psikologis, relasi sosial dan kepuasan relasional ataupun lainnya.
Sedangkan seksualitas adalah bagian yang alamiah dari kehidupan manusia yang tidak semata mata terkait dengan fungsi reproduktif, tetapi juga mempunyai fungsi rekreatif. Seksualitas merupakan isu kualitas hidup yang penting, dari masa muda sampai ke usia lanjut

Masalah :

Dengan bertambahnya usia, frekuensi hubungan seksual juga akan berkurang. Pada penelitian Call dkk, 1995 didapatkan bahwa pada mereka yang berusia 19-24 tahun, 96% melakukan hubungan seksual sedikitnya satu kali selama satu bulan terakhir. Pada mereka yang berusia 50-54 tahun, angka tersebut menurun menjadi 83% dan pada mereka yang berusia lebih dari 75 tahun, menurun lagi menjadi hanya sekitar 27% . Hasil penelitian University of Chicago, 2007, mendapatkan bahwa memang aktivitas seksual berkurang sejalan dengan bertambahnya usia, dan penurunan tersebut lebih tinggi diantara para wanita dibandingkan pria. Pada pria, prevalensi aktivitas seksual pada kelompok usia 57-64 tahun adalah 73%, pada kelompok usia 65-74 tahun, 53% dan pada kelompok usia 75-85 tahun, 26%

Masalah seksual pada Manula.

Pertambahan usia menyebabkan perubahan perubahan jasmaniah pada pria maupun wanita. Perubahan tersebut bisa berdampak pada kemampuan seseorang untuk melakukan dan menikmati aktivitas seksual. Perubahan itu dapat memberi efek positif. pada wanita misalnya, malah lebih bisa menikmati kehidupan seksual setelah menopause atau setelah mengalami histerektomi dan tidak merasa bahwa tanda tanda penuaan akan mengurangi daya tarik mereka. Sebaliknya pada wanita yang menganggap bahwa kemudaan dan kemampuan reproduksi merupakan ciri kewanitaan yang utama, maka menjadi tua akan merupakan masalah. Dengan pertambahan usia, pada seorang wanita akan terjadi pemendekan dan penyempitan vagina. Selain itu, dinding vagina juga menipis dan menjadi agak kaku serta lubrikasi berkurang. Hal ini akan mengganggu kepuasan seksual. Sementara pada pria, pertambahan usia biasanya disertai oleh gangguan ereksi (impotensi). Pada usia sekitar 65 tahun, 15-25% pria paling tidak mengalami satu kali gangguan ereksi diantara empat kali melakukan hubungan seksual. Selain itu, untuk bisa ereksi juga perlu waktu lebih lama, itupun tidak penuh dan jumlah ejakulatnya juga berkurang. Setelah orgasme, ereksi juga akan segera hilang dan perlu waktu yang lebih lama untuk bisa ereksi kembali.
Perubahan perubahan yang terjadi pada masa tua dapat berupa :
• Wanita : Kurang gairah, gangguan lubrikasi, tidak mampu orgasme, nyeri sanggama
• Pria : Gangguan ereksi, kurang gairah, orgasme (ejakulasi) dini, performance anxiety,
tidak
bisa orgasme

Bagaimana penyebabnya ?

Beberapa penyebab gangguan kegiatan seksual pada usia lanjut antara lain adalah :

Faktor sosial
• Pandangan yang lebih menekankan pada fungsi reproduktif seksualitas manusia
• Norma terkait seksualitas yang berlaku di masyarakat yang menganggap bahwa hal hal yang
menyangkut seksualitas sepantasnya adalah untuk mereka yang masih muda
• Sikap seksual yang lebih kaku dan konvensional dikalangan kelompok usia yang lebih tua
• Keengganan anak anak yang sudah dewasa untuk mendukung relasi baru dengan pasangan
pengganti untuk orang tua mereka yang menjanda/menduda

Faktor psikologis
• Depresi, cemas, citra diri, performance anxiety (pria)

Faktor biologis-fisik
Gangguan aktivitas seksual pada pasangan berusia lanjut kebanyakan terkait dengan masalah gangguan kesehatan fisik yang bersifat kronis dan obat obat yang digunakan, antara lain :
• Artritis, bisa mengganggu kenyamanan kontak seksual
• Nyeri kronis, mengganggu semua aktivitas kehidupan, termasuk seks
• Diabetes, dapat menyebabkan impotensi
• Penyakit kardiovaskuler : atherosklerosis dapat mengganggu kelancaran aliran darah, sehingga
mempengaruhi ereksi; sedangkan serangan jantung ulangan (infark otot jantung) karena
aktivitas seksual, jarang terjadi
• Stroke, jarang menyebabkan gangguan serius pada fungsi seksual dan aktivitas seksual juga
jarang menyebabkan stroke ulangan
• Inkontinensi, karena menurunnya kendali kandung kemih, bisa mengganggu aktivitas seksual
• Hipogonadisme
• Penyakit pada kelenjar pituiter
• Keganasan
• Penggunaan zat psikoaktif
• Penyakit paru
• Pasca bedah, terutama pada organ organ reproduksi atau yang berkaitan dengan tanda tanda
seks sekunder pada dasarnya tidak akan menyebabkan gangguan fungsi seksual permanen
• Obat obat, dapat mengganggu kemampuan ereksi atau ejakulasi (antidepresi, antihipertensi,
antihistamin dll).

Harapan seksual

Beberapa tulisan tentang seksualitas pada mereka yang berusia lanjut, didapatkan bahwa :
• Sejumlah besar mereka yang berusia lanjut tetap mempunyai minat seksual yang besar dan
tetap mempunyai kemampuan ekspresi seksual
• Pada penelitian Wiley dan Bortz, didapatkan bahwa 92% responden berusia lanjut yang diteliti
(N 111), menginginkan melakukan aktivitas seksual sedikitnya satu kali seminggu, kalau
mungkin dua kali atau lebih, seperti yang mereka lakukan sekitar 10 tahun yang lalu
(kenyataannya, pada saat ini hanya 32% responden yang frekuensi aktivitas seksualnya
tetap); hal ini menunjukkan bahwa meskipun secara obyektif ada penurunan frekuensi
aktivitas seksual, minat utk hubungan seksual tetap tinggi.
• Cukup banyak diantara mereka yang berusia lanjut yang tetap aktif secara seksual sampai
berusia 90-an tahun
• Banyak pria yang mengakui bahwa aktifitas seksual mereka pada usia 70-an sama dengan
ketika berusia 20-an; 15% bahkan mengatakan meningkat
• Aktifitas seksual di masa muda menjadi prediktor yang baik untuk aktifitas seksual di usia
lanjut


Menanggulangi masalah Seks pada Manula.

Perubahan fisik karena usia lanjut tidak dapat dielakan,namun beberapa usaha dan penyesuaian harus di lakukan agar aktivitas seksual tetap dapat dijalani dan dinikmati secara optimal :
• Perubahan perubahan fisik (genitalia) pria dan wanita pada dasarnya compatible. Ereksi yang
tidak penuh sesuai dengan vagina yang kurang lentur. Waktu yang lebih lama untuk bisa
ereksi, sesuai dengan meningkatnya waktu yang dibutuhkan untuk lubrikasi
• Aktivitas seksual tidak berarti harus selalu mencakup hubungan seksual. Kebersamaan bisa
lebih dinikmati.
• Minat pasangan wanita terhadap aktivitas seksual bisa meningkat, karena relatif terbebas dari
rutinitas kegiatan rumah tangga dan “risiko kehamilan”
• Meskipun waktu yang dibutuhkan untuk bisa ereksi lebih lama, ereksi bisa dipertahankan lebih
lama dan ejakulasi lebih bisa dikendalikan
• Ereksi psikogenik berkurang, sehingga sentuhan langsung diperlukan, tanpa ada ketergesaan.
Foreplay yang adekuat menjadi penting
• Pilih posisi hubungan seksual yang lebih sesuai dengan kondisi fisik, juga waktu yang lebih
tepat, sesuai dengan perubahan jadwal kegiatan harian
• Wanita pada umumnya lebih memperhatikan kesehatan seksualnya dan lebih terbuka
membahasnya dengan tenaga ahli. Pria lebih tertutup dan cenderung menunggu inisiatif
konsultan seks untuk memulai dialog tentang masalah seksual yang dialami
• Kepuasan seksual juga dipengaruhi oleh keberadaan pasangan seksual dan kualitas relasional
yang baik
• Kelompok usia lanjut yang berasal dari generasi yang lebih muda, meskipun cenderung tetap
normatif-konservatif, secara umum lebih meningkat kualitas dan kuantitas kehidupan
seksualnya dibandingkan generasi sebelumnya dan lebih terbuka terhadap macam macam
variasi metoda pemanasan dan aktivitas seksual.

Artikel Terkait



0 komentar:

Posting Komentar

ADVERTISEMENTS